HEADLINE NEWS

Rabu, 22 Juni 2011

Seorang Ayah Minta Putri Kembarnya Dibunuh!

New Delhi: Kasus Euthanasia (hak seseorang untuk mati atau meminta kematian) kembali terjadi. Kali ini terjadi di New Delhi, India, seorang ayah dengan berat hati memohon hak tersebut bagi kedua putrinya agar tidak lagi merasakan penderitaan.

Mohammed Shakeel adalah ayah dari pasangan kembar siam, Saba dan Farah Shakeel, yang berusia 15 tahun. Mereka dempet di tengkorak dan kini mengalami sakit kepala yang parah dan dengan bertambahnya umur, kemampuan bicara mereka berkurang.

Pasangan kembar ini, sejatinya pernah mendapat bantuan pengobatan dari putra mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed. Namun, Mohammed Shakeel yang hanya penjual teh di pinggir jalan masih kerap tertatih membiayai kehidupan delapan anggota keluarganya, apalagi pengobatan untuk si kembar.

Dilansir Daily Mail Selasa (21/6/2011), Mohammed Shakeel yang tinggal di Patna menggambarkan kedua putrinya begitu menderita, sehingga ia berharap pemerintah India mengizinkan dokter ‘membunuh’ Saba dan Farah agar terlepas dari penderitaan itu.

Lima tahun lalu, Sheikh Mohammed bin Zayed, membiayai pengobatan Farah dan Saba dan mengirim mereka ke para ahli kembar siam terkemuka dunia, termasuk Benjamin Carson dari Amerika Serikat, untuk mengetahui bagaimana cara aman memisahkan mereka.

Saat itu kondisi kesehatan Saba dan Farah masih baik dan semangatnya pun masih tinggi. Meski bergerak ke sana kemari seperti kepiting, keduanya masih suka bermain dan nonton film Bollywood.

Namun, Carson menemukan Saba dan Farah berbagi satu pembuluh darah penting dan hanya punya dua ginjal untuk berdua. Mohammed diberitahu bahwa kedua anaknya membutuhkan minimal enam kali operasi yang masing-masing berisiko membunuh salah satu. Pria itu memutuskan tidak mengambil risiko, meski Pangeran Zayed bersedia membayar semua ongkos.

Lima tahun kemudian, kondisi kedua gadis itu memburuk. Ketergantungan si kembar itu pada sepasang ginjal yang dimiliki Farah membuat tubuh mereka semakin kurus. Hingga Mohammed sampai pada kesimpulan bahwa penderitaan mereka harus diakhiri, kecuali ada dermawan yang mau mengongkosi pengobatan.

“Mereka ingin hidup dan menikmatinya seperti yang lain. Tetapi ketika rasa sakit itu datang, mereka menangis dan minta tolong,” kata Mohammed Shakeel kepada Daily Telegraph.

“Yang kami inginkan adalah pemerintah datang dan membantu kami dalam pengobatan, atau mengizinkan mereka mati, karena mereka sangat menderita,” katanya melanjutkan.

Saudara laki-laki si kembar, Tamana Ahmad Malik, menuturkan, kedua adiknya itu merasakan sakit yang tak tertahankan tiap kali terjaga dan itu bisa berlangsung selama 15 jam sehari.

“Beberapa bulan terakhir, mereka merasakan sakit kepala dan badan. Mereka jadi sulit bicara dan kaki-kaki mereka jadi melengkung,” kata Tamana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar